KEMENTERIAN AGAMA
MTS. TAUHIDUL AFKAR
Jalan
Hancet KM. 6 Cibadak Pesantren Girang Sukanagalih Pacet Cianjur
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN (RPL)
BIMBINGAN
KLASIKAL
SEMESTER GENAP
TAHUN PELAJARAN 2026/2027
|
A |
Komponen |
Layanan Dasar |
|
B |
Bidang Layanan |
Pribadi |
|
C |
Topik / Tema
Layanan |
Stress dan cara mengatasinya |
|
D |
Fungsi Layanan |
Pemahaman |
|
E |
Tujuan Umum |
Peserta
didik/konseli dapat memahami
gejala-gejala stress serta faktor-faktor penyebab dan cara mengatasinya |
|
F |
Tujuan Khusus |
1.
Peserta didik/konseli dapat memahami pengertian
stress 2.
Peserta didik/konseli dapat memahami faktor-faktor
penyebab dan dampak stress 3.
Peserta didik/konseli dapat memahami
cara mengatasi stress 4.
Peserta didik/konseli dapat mengatasi
cemas menghadapi ujian |
|
G |
Sasaran Layanan |
Kelas
9 |
|
H |
Materi Layanan |
1.
Pengertianstress 2.
Faktor penyebab dan dampak
stress 3.
Cara mengatasi stress 4.
Mengatasi cemas menghadapi
ujian |
|
I |
Waktu |
2 Kali Pertemuan x 45 Menit |
|
J |
Sumber Materi |
Slamet, dkk 2016, Materi Layanan
Klasikal Bimbingan dan Konseling untuk SMP-MTs kelas 7, Yogyakarta, Paramitra Publishing |
|
K |
Metode/Teknik |
Ceramah, Curah pendapat dan tanya
jawab |
|
L |
Media
/ Alat |
LCD, Power
Point, Stress dan cara mengatasinya |
|
M |
Pelaksanaan |
|
|
Tahap |
Uraian Kegiatan |
|
|
1. Tahap Awal / Pedahuluan |
1.
Membuka dengan salam
dan berdoa 2.
Membina hubungan baik
dengan peserta didik (menanyakan kabar, pelajaran sebelumnya, ice breaking) 3.
Menyampaikan tujuan
layanan materi Bimbingan dan Konseling 4.
Menanayakan kesiapan
kepada peserta didik |
|
|
2. Tahap Inti |
1.
Guru BK menayangkan media slide power point yang
berhubungan dengan materi layanan 2. Peserta didik mengamati slide pp yang berhubungan dengan materi layanan 3.
Guru BK mengajak
curah pendapat dan
tanya jawab 4.
Guru BK membagi kelas menjadi
6 kelompok, 1 kelompok 5- 6 orang 5.
Guru BK
memberi tugas kepada masing-masing kelompok 6.
Peserta didik
mendiskusikan dengan
kelompok masing-masing 7.
Setiap
kelompok mempresetasikan tugasnya kemudian kelompok lain menanggapinya, dan
seterusnya bergantian sampai selesai. |
|
|
|
3. Tahap Penutup |
1.
Guru BK mengajak
peserta didik membuat kesimpulan yang terkait dengan materi layanan 2.
Guru BK mengajak
peserta didik untuk agar dapat menghadirkan Tuhan dalam hidupnya 3.
Guru BK menyampaikan
materi layanan yang akan datang 4.
Guru BK mengakhiri
kegiatan dengan berdoa dan salam |
|
M |
Evaluasi |
|
|
|
1. Evaluasi Proses |
Guru BK atau
konselor melakukan evaluasi dengan memperhatikan proses yang terjadi : 1. Melakukan Refleksi hasil, setiap peserta didik menuliskan di kertas yang sudah disiapkan. 2. Sikap atau atusias peserta didik dalam
mengikuti kegiatan 3. Cara peserta didik dalam menyampaikan
pendapat atau bertanya 4. Cara peserta didik memberikan penjelasan
dari pertanyaan guru BK |
|
2. Evaluasi Hasil |
Evaluasi
setelah mengikuti kegiatan klasikal, antara lain : 1. Merasakan suasana pertemuan :
menyenangkan/kurang menyenangkan/tidak menyenangkan. 2. Topik yang dibahas : sangat penting/kurang
penting/tidak penting 3. Cara Guru Bimbingan dan Konseling atau
konselor menyampaikan : mudah dipahami/tidak mudah/sulit dipahami 4. Kegiatan yang diikuti : menarik/kurang
menarik/tidak menarik untuk diikuti |
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1.
Uraian materi
2.
Lembar kerja siswa
3. Instrumen penilaian
Cianjur, Juli 2026
Mengetahui
Kepala Sekolah Guru
BK
Ai Maskuroh, SE. Uuh Suhaemi Arizal, S.Pd.I
NIP --- NIP. ---
Lampiran
1. Uraian Materi
STRESS DAN CARA
MENGATASINYA
Pengertian Stress
Menurut kamus
besar bahasa indonesia, ada 2 pengertian stress:
1.
Gangguan atau kekacauan mental dan emosional
2.
Tekanan.
Secara teknis
psikologik, stress didefinisikan sebagai suatu respons penyesuaian Seseorang
terhadap situasi yang dipersepsinya menantang atau mengancam kesejahteraan
orang bersangkutan.
Jadi stress
merupakan suatu respon fisiologik ataupun perilaku terhadap stressor hal yang dipandang sebagai menyebabkan
cekaman, gangguan keseimbangan (homeostasis),
baik internal maupun eksternal.
Dalam
pengertian ini, bisa kita perjelas bahwa stress bersifat subjektif sesuai
persepsi orang yang memandangnya. Dengan perkataan lain apa yang mencekam bagi
seseorang belum tentu dipersepsi mencekam bagi orang lain. Mungkin Anda
bertanya-tanya, mengapa stress lebih banyak dialami oleh remaja? Hal ini
disebabkan remaja cenderung memperhatikan citra tubuhnya, rentan mengalami
peristiwa yang penuh stres, mengalami tekanan dalam penyesuaian diri dalam
berinteraksi dengan orang lain. Hinton (1989) mengatakan bahwa masa remaja
merupakan masa perubahan hormonal, perubahan tingkat dan pola hubungan sosial
sehingga remaja cenderung mempersepsikan orang tua secara berbeda. Selain itu,
masa pertumbuhan remaja, jarang yang berlangsung dengan lancar. Banyak masalah
yang terjadi dan bisa makin serius hingga menyebabkan depresi yang
berkepanjangan. Remaja yang mengalami depresi akan menjadi apatis dan
menyalahkan dirinya sendiri sehingga merasa enggan untuk mencari pertolongan.
Faktor – faktor Penyebab Stress
Di sisi lain,
stressor adalah sumber yang dipersepsi seseorang atau sekelompok orang memberi
tekanan/cekaman terhadap keseimbangan diri mereka. Ada 3 sumber utama bagi
stress, yaitu :
1. Lingkungan
Lingkungan
kehidupan memberi berbagai tuntutan penyesuaian diri seperti antara lain:
cuaca, kebisingan, kepadatan, tekanan waktu, standard prestasi, berbagai
ancaman terhadap rasa aman dan harga diri, tuntutan hubungan antar pribadi,
penyesuaian diri dengan teman, pasangan,dengan perubahan keluarga.
2.
Fisiologis
perubahan
kondisi tubuh: masa remaja; haid, hamil, proses menua, kecelakaan, kurang gizi,
kurang tidur, tekanan terhadap tubuh.
reaksi
tubuh : reaksi terhadap ancaman & perubahan lingkungan mengakibatkan perubahan
pada tubuh kita, menimbulkan stress.
3. Pikiran kita
Pikiran
menginterpretasi dan menerjemahkan pengalaman perubahan dan menentukan kapan
menekan tombol panik. Bagaimana kita memberi makna/label pada pengalaman dan
antisipasi ke depan, bisa membuat kita relax atau stress.
Gejala Stress
Ada sejumlah gejala yang bisa diditeksi secara
mudah yaitu :
1. Gejala
Fisiologis
Denyut jantung
bertambah cepat, banyak berkeringat (terutama keringat dingin), pernafasan
terganggu, otot terasa tegang, sering ingin buang air kecil, sulit tidur,
gangguan lambung.
2. Gejala Psikologis
Resah, sering
merasa bingung, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, tidak enak
perasaan, atau perasaan kewalahan ( exhausted) dsb
3. Tingkah Laku
Berbicara cepat
sekali, menggigit kuku, menggoyang-goyangkan kaki, ticks, gemetaran, berubah
nafsu makan ( bertambah atau berkurang).
Gejala-gejala Stress
Pada Remaja
Anda dapat mengetahui apakah diri kalian mengalami depresi atau tidak maka Anda perlu
mengetahui gejala-gejala depresi pada remaja. Bagaimana gejala-gejala stress yang dialami remaja ? ada beberapa gejala-gejala depresi pada remaja, yaitu:
1.
Kehilangan
minat dan kegembiraan pada hampir semua aktivitas dan hal ini hampir terjadi
setiap hari.
2.
Berat badan
mengalami penurunan, padahal tidak sedang melakukan diet. Atau justru mengalami
peningkatan berat badan lebih dari 5% dalam satu bulan. Atau mengalami
penurunan atau justru peningkatan nasfu makan hampir setiap hari.
3.
Mengalami
insomnia (kesulitan tidur) atau hipersomnia (suka tidur atau lebih banyak
tidur) hampir setiap hari.
4.
Mengalami
penurunan minat dalam melakukan aktivitas yang terjadi hampir setiap hari dan
kehilangan energi hampir setiap hari.
5.
Merasa
dirinya tidak berharga atau merasa bersalah yang berlebihan.
6.
Kehilangan
kemampuan untuk berpikir dan berkonsentrasi.
7.
Munculnya
perasaan sedih hampir setiap hari.
8.
Munculnya
pikiran-pikiran tentang kematian, ide bunuh diri yang berulang tanpa rencana,
atau adanya usaha percobaan bunuh diri.
Dampak
Akibat Stress
Dampak stress dibedakan dalam 3 kategori, dampak
Fisiologik, dampak psikologik dan dampak perilaku behavioral
1. Dampak
Fisiologis
Secara umum
orang yang mengalami stress mengalami sejumlah gangguan fisik seperti : mudah
masuk angin, mudah pening-pening, kejang otot (kram), mengalami kegemukan atau
menjadi kurus yang tidak dapat dijelaskan, juga bisa menderita penyakit yang
lebih serius seperti , hypertensi, dst. Secara
rinci dapat diklasifikasi sebagai berikut :
a. Gangguan pada organ tubuh,
- Muscle myopathy ; otot
tertentu mengencang/melemah
- Tekanan darah naik ;
kerusakan jantung dan arteri
- Sistem pencernaan;
mag, diarrhea
b. Gangguan pada sistem reproduksi
- Amenorrhea; tertahannya
menstruasi
- Kegagalan ovulasi
pada wanita, impoten pada pria, kurang produksi semen pada pria
- Kehilangan gairah sex
c. Gangguan pada sistem pernafasan : asthma,
bronchitis
d. Gangguan lainnya, seperti
pening (migrane), tegang otot, rasa bosan, dst
2. Dampak
Psikologis
• Keletihan emosi, jenuh, penghayatan ini
merupakan tanda pertama dan punya peran sentral bagi terjadinya burn – out.
• Terjadi depersonalisasi ; Dalam keadaan stress berkepanjangan, seiring
dengan kelelahan/keletihan emosi, kita dapat melihat ada kecenderungan yang
bersangkutan memperlakuan orang lain sebagai sesuatu ketimbang sesorang.
• Pencapaian pribadi yang bersangkutan
menurun, sehingga berakibat pula menurunnya rasa kompeten & rasa sukses.
3. Dampak
Perilaku
• Manakala stress menjadi distress, prestasi
belajar menurun dan sering terjadi tingkah laku yang tidak berterima oleh
masyarakat.
• Level stress yang cukup tinggi berdampak
negative pada kemampuan mengingat informasi, mengambil keputusan, mengambil
langkah tepat.
• Mahasiswa yang ‘over-stressed’
~ stress berat seringkali banyak membolos atau tidak aktif mengikuti
kegiatan pembelajaran.
Cara
Menangani Stress
1.
Strategi Pencegahan
Untuk
mencegah mengalami stress, setidaknya ada 3 lapis.
a. Lapis pertama - primary prevention, dengan
cara merubah cara kita melakukan sesuatu. Untuk keperluan ini kita perlu
memiliki skills yang relevan, misalnya: skill mengatur waktu, skill
menyalurkan, skill mendelegasikan, skill mengorganisasikan, menata, dst.
b. Lapis kedua - Secondary prevention, strateginya
kita menyiapkan diri menghadapi stressor, dengan cara exercise, diet, rekreasi,
istirahat , meditasi, dst.
c. Lapis ketiga - Tertiary prevention, strateginya
kita menangani dampak stress yang
terlanjur ada, kalau diperlukan meminta bantuan jaringan supportive ( social-network)
ataupun bantuan profesional.
2.
Menangani Stress
a.
S , Study skills
Ada banyak hal
yang perlu dipelajari, yang ingin diketahui, ada banyak kegiatan yang ingin
diikuti, waktu terbatas. Oleh karena itu, agar tidak menjadi stress, seyogyanya
mahasiswa perlu memiliki berbagai skill belajar yang sesuai sehingga saya bisa
belajar secara efektif tetapi juga effisien dalam menggunakan daya dan waktu
serta sumber lainnya.
b. T,
Tempo – Time management
Selain skill
belajar, skill penting yang juga perlu Anda kuasai untuk menangani stress
adalah manajemen waktu, untuk keperluan tersebut siswa perlu memiliki paradigma
waktu yang tepat.
c. Rehat
- Rest (istirahat)
Tubuh
kita by default memerlukan jedah, istirahat. Kita perlu belajar
bagaimana speeding up, tetapi juga arif dan terampil untuk slowing
down. Bila kita tidak memiliki keterampilan istirahat, leisure, santai (
bukan leha-leha) maka besar kemungkinan kita mengalami stress.
d. Eating
& Exercise – Makan dan Olahraga Kebugaran
Tubuh kita
membutuhkan asupan yang seimbang, tetapi juga‘exercise’ yang memadai,agar bisa
bugar. Bandingkan apabila kita mempergunakan suatu peralatan baru biasanya kita
terlebih dalulu membaca buku manual yang disertakan oleh pabrik pencipta
peralatan tersebut, Oleh karena itu sebetulnya perlu kita cermati asupan apa
yang baik untuk tubuh ini, menurut manual dari Penciptanya.
e. Self-talk
- Percakapan kalbu
Sejak kecil
kita punya ‘perlengkapan’ berpkir yaitu percakapan kalbu, dimana kita biasa
mendengar apa yang kaya hati atau hati nurani katakana kepada kita. Isi
percakapan itu bias positif, membuat kita optimist, tetapi seringkali juga
negative, membuat kita tertekan-stress. Kita masih perlu lebih mengembangkan
arah percakapan dari kita kepada hati
nurani ataupun kata hati kita,
sehingga terjadi percakapan timbal-balik antarakita dengan diri kita. Dalam
hal menangani stress, kita perlu bisa
secara sadar meng-ganti isi percakapan yang tidak mendukung dengan kalimatyang
bisa mendukung kita. Langkah ini biasa disebut percakapan kalbu: stop-ganti
yang bisa kita latihkan di diri kita.
f. Social
support - jaringan pendukung
Manusia adalah
makhluk sosial, jadi pada hakikatnya tidak tahan sendirian, butuh perasaan
tidak sendiri, tetapi punya sejumlah orang yang saling peduli, yang akan merasa
kehilangan manakala lama tidak saling bertemu atau berkomunikasi. Dalam keadaan
stress sebaiknya kita berusaha bertemu dengan teman, sehingga paling tidak kita
tetap punyapenghayatan tidak sendirian yang
sungguh mencekam.
Menangani
Cemas Hadapi Ujian
Cemas
menghadapi ujian atau test adalah salah satu bentuk stress yang lumrah dihadapi
oleh hampir semua orang, bagaimana kita sebaiknya menangani stress tersebut.
Cemas hadapi ujian adalah respons kita atas situasi ujian, respons yang kita
peroleh dan ulangi sejak kecil, yang seperti juga semua hasil perolehan belajar
lainnya, respon tersebut bisa diubah.
Kecemasan dalam kadar sedikit, tidak apa-apa,
malah bagus sebab bisa memotivasi kita untuk belajar lebih giat mempersiapkan
diri menghadapi ujian. Namun demikan, apabila kecemasan tersebut sudah
berlebihan, bisa menjadi distress, justru akan membuat prestasi kita
terganggu sebab kita tidak bisa berpikir dengan jernih. Lebih parah, apabila
kecemasan ini kita pergunakan sebagai alasan ‘excuse’, maka hal itu akan
merusak kepribadian kita.
Cara mengatasi
kecemasan ujian:
1. Biasakan diri dengan situasi
ujian, dengan cara antara lain :
a. Kenali ruang dimana kita akan ujian
b. Belajar memadai, dan banyak berlatih sesuai
tipe ujian ( open-end, multiple choice ataukan essay ) yang akan dihadapi
c. Berlatih berprestasi dalam waktu terbatas,
seperti di ujian.
2. Kendalikan emosi, pikiran dan
tindakan
a. Hindari
kecenderungan meragukan diri ataupun percakapan kalbu negative.
Apabila
kita memang ragu kurang menguasai bahan, tidak adacara lain cobalah belajar,
kuasai secara memadai. Selanjutnya apabila ada percakapan pikiran
negative, lakukan teknik ‘sop-ganti’ berikut
-
Metode ‘STOP Pikiran’
Kita merasakan
kecemasan karena kita dihantui oleh pikiran negative tentang kesulitan/hambatan
/ketidak mampuan atau ketidak berdayaan kita dalam ujian nanti. Bahkan bisa
saja kita dibayangi pikiran negative
lainnya seperti, “ Wah saya pernah berbeda pendapat dengan dosen itu,
jangan-jangan dia masih sentimen….,dst”. Pikiran negative ini akan memberi
rangsangan kepada amygdala yang akan memicu endokrin menimbulkan enzyme
cortizol yang mengakibatkan rasa resah pada diri kita. Selanjutnya rasa cemas
ini akan meneguhkan bahkan menambah asosiasii pikiran negative yang kembali dan
dirasakan lebih resah dan cemas lagi. Jadi strateginya adalah menghentikan
pikiran negative tersebut.
-
Mengatur arus berbagai pikiran dan refocus
Kadang-kadang
ada banyak arus pikiran bergerak dalam mental/mind kita, simpang siur, saling
menyerobot. Oleh karenanya perlu diatur, perlu ditertibkan, dan difokuskan pada
satu pokok pikiran setiap saatnya. Perludicatat tidak selamanya kita perlu
mengikuti satu alur pikir ( linier ),
kadang-kadang diperlukan kita menyebrang alur (lateral) . Hal itu boleh
boleh saja, bahkan seringkali diperlukan untuk kerja kreatif. Akan tetapi tetap
perlu diupayakan tertib, focus pada satu gagasan, dalam hal ini hanya idea yang
relevan berkaitan dengan ujian. Gagasan lainnya, ditunda dan diberi jadwal
lain, tetapi perlu ditanggapi supaya tidak menganggu. Bila kita dapat mengatur
pikiran dengan lebih tertib, maka muncul-mya gagasan yang relevan akan menolong
kita lebih percaya diri, dan dengan demikian, merangsang muncul pikiran
iringannya.
b. Ramah dan beri diri kita dukungan moril
c. Berpikirlah realistic, ujian hanya merupakan
salah satu cara evaluasi, bukan segala-galanya
d. Berdamai dengan diri siap hadapi yang terburuk ~
tidak lulus ujian, bukanlah akhir segalanya, bukan kiamat.
3. Persiapkan Fisik
a. Asupan nutrisi yang sesuai untuk situasi ujian
( tidak terlalu kenyang, bergizi dan seimbang )
b. Cukup istirahat, relaks
c. Sebaiknya tetap lakukan exercise seperlunya.
4. Pelajari skill relaksasi yang
amat menolong segera
a. Tarik nafas dalam secara teratur
Metode ini
merupakan teknik yang paling sederhana, yang bias menolong kita menenangkan respons
fisiologik/faal yang ditimbulkan oleh perasaan kita.
b. Teknik
Relaksasi lainnya seperti ‘progressive relaxation’
c. Bermeditasi, berdoa dan upaya spiritual lainnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar